RS Dewi Sri Karawang

Waspada Diare: Bukan Sekadar Sakit Perut Biasa! Kenali Penyebab, Tanda Dehidrasi, dan Cara Menanganinya

COVER ARTIKEL LANDSCAPE - DIARE copy

Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama bagi anak-anak dan balita. Meski sering dianggap sepele, gangguan pencernaan ini bisa menjadi kondisi darurat jika tidak ditangani dengan tepat.

Lantas, kapan seseorang dikatakan mengalami diare dan apa langkah pertama yang harus dilakukan? Simak panduan lengkapnya berikut ini.


Apa Itu Diare?

Seseorang didiagnosis mengalami diare apabila buang air besar (BAB) terjadi 3 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi tinja yang cair atau lembek. Secara medis, kondisi ini terbagi menjadi dua berdasarkan durasinya:

  • Diare Akut: Berlangsung kurang dari atau sama dengan 14 hari.
  • Diare Persisten: Berlangsung lebih dari 14 hari.
Penyebab Utama: Dari Infeksi hingga Makanan

Diare terjadi karena gangguan pada usus yang menyebabkan cairan tidak terserap dengan baik atau usus mengeluarkan terlalu banyak cairan. Pemicunya meliputi:

  • Infeksi Bakteri & Virus: Seperti E. coli, Salmonella, atau Rotavirus.
  • Gaya Hidup: Konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi serta kebersihan tangan yang rendah.
  • Faktor Lain: Keracunan makanan, alergi terhadap makanan tertentu, atau efek samping obat-obatan.
Waspadai Tanda-Tanda Dehidrasi

Gejala diare tidak hanya sebatas BAB cair, tapi juga sering disertai mual, muntah, nyeri kram perut, demam, dan rasa lemas. Yang paling berbahaya adalah dehidrasi, dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Rasa haus yang berlebihan.
  • Mulut dan tenggorokan kering.
  • Mata terlihat cekung.
  • Penurunan kesadaran atau sangat lemas.
Langkah Penanganan Utama: Rehidrasi adalah Kunci!

Prinsip paling penting dalam mengobati diare adalah mengganti cairan tubuh yang hilang (rehidrasi) untuk mencegah komplikasi fatal.

  1. Oralit (ORS): Terapi utama untuk mengganti cairan dan elektrolit.
  2. Cairan Rumah Terpilih: Minum air putih, sup, atau kuah sayur.
  3. Suplemen Zinc: Sangat penting diberikan kepada anak-anak untuk mempercepat penyembuhan usus.
  4. Obat Sesuai Indikasi: Konsultasikan ke dokter jika diare disertai darah atau demam tinggi.
Cara Mencegah Diare dengan Perilaku Hidup Bersih (PHBS)

Pencegahan berbasis lingkungan sangat efektif untuk menurunkan risiko diare. Pastikan Anda menerapkan langkah berikut:

  • Cuci Tangan Pakai Sabun: Terutama sebelum makan dan setelah dari kamar mandi.
  • Konsumsi Air Bersih: Pastikan air minum sudah dimasak hingga matang.
  • Kebersihan Makanan: Cuci buah dan sayur serta pastikan makanan matang sempurna.
  • Sanitasi Lingkungan: Jaga kebersihan area rumah dan sistem pembuangan limbah.

PENTING: Jangan tunda ke dokter jika diare tidak membaik dalam 2 hari atau jika muncul tanda-tanda dehidrasi berat. Diare yang tidak terkontrol dapat menyebabkan syok hingga kematian, terutama pada balita.


Referensi Utama:

  • Kaunang, W. P. J., et al. (2024). Diare & Hepatitis. ResearchGate.
  • Raihana, K., et al. (2025). Mengenal Diare: Gejala dan Cara Mengatasinya. Medic Nutricia Journal.
  • Putri, S. M., et al. (2025). Faktor Penyebab Kejadian Diare pada Balita. Public Health Journal.
  • Alomedika (2024). Patofisiologi Gastroenteritis.
  • Al Kautsar, F. N., et al. (2024). Evaluasi Pengobatan Diare Akut pada Anak.
Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *